BMKG dan BPGMN Jajaki Integrasi Data untuk Mitigasi Karhutla Gambut

22/10/2026 00:33

BMKG dan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) menjajaki integrasi data meteorologi, klimatologi, dan kondisi gambut untuk mendukung pengelolaan gambut dan mangrove serta mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pembahasan berlangsung saat Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menerima Kepala BPGMN Satyawan Pudyatmoko beserta jajaran di Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Kamis (22/10). Menurut BMKG, penggabungan informasi cuaca dan iklim dengan data gambut diharapkan memberikan gambaran wilayah yang lebih menyeluruh sebagai bahan pengambilan keputusan.

Data cuaca dan kondisi gambut untuk menilai risiko

Faisal menekankan perlunya memadukan data kondisi gambut, termasuk muka air tanah, dengan informasi potensi hujan. Dengan pendekatan tersebut, kondisi wilayah dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan pengelolaan gambut dan mangrove.

BMKG memiliki informasi dan sarana pemantauan yang dapat mendukung kebutuhan itu, antara lain prediksi iklim, analisis kekeringan meteorologis, pemantauan hari tanpa hujan, serta data satelit untuk mengamati titik panas, area terbakar, dan sebaran asap. Informasi tersebut dapat membantu mengenali wilayah yang berisiko mengalami kekeringan dan merencanakan langkah mitigasi.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG Marjuki menjelaskan, informasi curah hujan, awal musim kemarau, tinggi muka air, dan kelembapan gambut dapat dipadukan untuk menghasilkan indikator risiko yang lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan. Data itu juga dapat menjadi pertimbangan dalam pengelolaan air dan pencegahan kebakaran.

BMKG turut melakukan pengamatan kualitas udara dan gas rumah kaca untuk mendukung pemahaman dampak kebakaran serta evaluasi restorasi lingkungan. Menurut Marjuki, pengembangan kerja sama dapat mencakup pengukuran gas rumah kaca di wilayah restorasi, estimasi emisi akibat karhutla, dan pemantauan kualitas udara melalui dasbor bersama. Integrasi data masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik gambut.

SPARTAN mendukung analisis mitigasi

Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra memaparkan peran Fire Danger Rating System (FDRS) dan platform SPARTAN dalam mendukung mitigasi karhutla. Sistem tersebut menyediakan informasi tingkat kekeringan dan kondisi gambut serta potensi penyebaran api untuk membantu analisis dan penentuan langkah antisipasi.

BMKG menegaskan bahwa SPARTAN bukan sistem yang mendeteksi lokasi kebakaran secara langsung, melainkan platform informasi untuk mendukung pengambilan keputusan mitigasi. Pengembangan peringatan dini kebakaran gambut juga memerlukan data survei lapangan agar indikator dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah, termasuk di Sumatera dan Kalimantan.

Data satelit Himawari dapat dimanfaatkan untuk memantau sebaran asap dan potensi titik kebakaran. Informasi meteorologi juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun rekomendasi mitigasi, termasuk operasi modifikasi cuaca apabila diperlukan.

BPGMN mengusulkan sistem informasi terpadu

Satyawan menyampaikan kebutuhan akan sistem informasi yang menyatukan peringatan dini kebakaran dengan pemantauan infrastruktur pembasahan gambut. Informasi fungsi sekat kanal, tinggi muka air tanah, dan kondisi wilayah diperlukan untuk menilai kebutuhan penanganan serta memeriksa kesesuaian upaya pembasahan di lapangan.

BPGMN berharap pengembangan sistem memanfaatkan data dan teknologi yang tersedia, termasuk kecerdasan buatan dan penginderaan jauh. Lembaga tersebut juga membuka peluang kerja sama dengan BMKG dan kementerian terkait sesuai kebutuhan serta kewenangan masing-masing.

Dalam kunjungan itu, tim BPGMN berdiskusi dan meninjau gedung operasional Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) BMKG. Fasilitas yang dikunjungi meliputi Meteorological Early Warning System (MEWS), Climate Early Warning System (CEWS), Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), Indonesia Earthquake Early Warning System (InaEEWS), ruang superkomputer SMONG, dan Broadcast Studio.

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal penjajakan pemanfaatan data dan sistem yang telah tersedia. BMKG menyebut pertukaran data dan penyelarasan kebutuhan teknis diharapkan membantu penggunaan informasi cuaca, iklim, dan potensi kebakaran secara lebih terpadu untuk memperkuat kesiapsiagaan serta mitigasi karhutla.