BMKG dan Pemprov Jabar Integrasikan Informasi MKG untuk Mitigasi Bencana

09/10/2026 00:33

BMKG dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong pemanfaatan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika (MKG) untuk mendukung mitigasi bencana, kesiapsiagaan, serta pengambilan keputusan di daerah. Upaya tersebut dibahas dalam kunjungan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi beserta jajaran ke Kantor BMKG di Jakarta.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan bahwa informasi MKG perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pembangunan dan melindungi masyarakat. Jawa Barat, menurutnya, memiliki aktivitas pembangunan tinggi sekaligus menghadapi ancaman hidrometeorologi dan geofisika.

Informasi MKG terhubung dengan sistem daerah

BMKG dan Pemprov Jawa Barat telah mengintegrasikan data serta informasi cuaca, peringatan dini, gempa bumi, dan tsunami dengan sistem pemerintah daerah. Integrasi itu antara lain dilakukan melalui SAPAWARGA dan J-SITE, dengan tujuan memudahkan pemanfaatan informasi MKG untuk pelayanan publik dan kesiapsiagaan bencana.

BMKG juga telah menghibahkan delapan unit peralatan sistem peringatan dini tsunami dan proteksi lingkungan kepada Pemprov Jawa Barat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Selain itu, dukungan pemanfaatan lahan dengan mekanisme pinjam pakai di Desa Cilayung menjadi bagian dari rencana penempatan radar cuaca untuk memantau kondisi atmosfer di wilayah Jawa Barat.

Kerja sama lain dijalankan BMKG bersama Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Bandung melalui pelayanan informasi MKG untuk mendukung operasi pencarian dan pertolongan. Kerja sama yang ditandatangani pada 17 Oktober 2022 itu berlaku hingga 17 Oktober 2027.

Kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana

Faisal menyampaikan bahwa peringatan dini perlu ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat oleh pemerintah daerah serta masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan integrasi informasi MKG dan koordinasi agar data yang tersedia dapat menjadi dasar tindakan antisipasi.

Dedi Mulyadi mengapresiasi perhatian BMKG terhadap mitigasi di Jawa Barat. Ia menilai antisipasi perlu dilakukan sejak dini, termasuk untuk mendukung sektor pertanian, kelautan, dan kebutuhan masyarakat lainnya. Dedi juga mencontohkan Jepang sebagai negara yang menghadapi bencana dengan sistem penanganan dan kesadaran masyarakat yang baik.

Dalam konteks ancaman gempa bumi, Dedi menyebut Sesar Lembang sebagai salah satu ancaman yang perlu diantisipasi di wilayah Bandung dan sekitarnya. Ia menekankan perlunya memastikan perangkat mitigasi tersedia dan berfungsi dengan baik.

Melalui kerja sama tersebut, BMKG dan Pemprov Jawa Barat diharapkan terus mengoptimalkan pemanfaatan informasi MKG, mengembangkan sarana observasi cuaca, dan mendukung sistem peringatan dini yang terintegrasi. Kolaborasi ini ditujukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat serta mengurangi risiko bencana.