BMKG Gelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan dan Gempa Bumi di Wonogiri

25/10/2026 00:33

BMKG menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan serta Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami di Kabupaten Wonogiri, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan di Gedung Khayangan, Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Wonogiri, itu ditujukan untuk meningkatkan literasi keselamatan nelayan dan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat serta pemerintah daerah.

Kegiatan terpadu tersebut diselenggarakan melalui Stasiun Geofisika Kelas I Sleman dan Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Tanjung Emas. Materinya mencakup pemahaman informasi cuaca untuk aktivitas perikanan serta kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami.

Perkuat pemahaman cuaca dan risiko bencana

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, kondisi Wonogiri yang memiliki garis pantai di selatan Jawa dan perairan Waduk Gajah Mungkur membuat pemahaman tentang cuaca dan potensi bencana menjadi penting. Informasi cuaca maritim dapat menjadi pertimbangan nelayan dalam menentukan waktu melaut, menunda keberangkatan, atau mengantisipasi cuaca buruk.

Faisal menyampaikan bahwa hasil yang diharapkan dari sekolah lapang ini mencakup kemampuan peserta melindungi diri, mengambil keputusan saat cuaca ekstrem, serta melakukan evakuasi mandiri dengan tepat ketika terjadi gempa bumi kuat.

Anggota Komisi V DPR RI Sriyanto Saputro menilai edukasi kebencanaan dan cuaca sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kesadaran masyarakat. Ia juga menyatakan dukungan terhadap penguatan layanan informasi BMKG agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.

Bupati Wonogiri Setyo Sukarno mengapresiasi kolaborasi tersebut dan menekankan pentingnya jejaring komunikasi. Ia berharap peserta meneruskan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada keluarga serta komunitas masing-masing.

Diikuti puluhan peserta lintas sektor

Sekolah Lapang Gempa Bumi diikuti 53 peserta dari unsur BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Diskominfo, Dinas Pendidikan, perwakilan sekolah, relawan, dan insan pers. Sementara itu, Sekolah Lapang Cuaca Nelayan diikuti 34 peserta, termasuk penyuluh perikanan, dinas teknis, perwakilan kelompok nelayan, dan nelayan tradisional.

BMKG mengajak pemangku kepentingan menerapkan informasi kebencanaan dalam tindakan di lapangan. Masyarakat juga diimbau mengakses kanal komunikasi dan informasi resmi BMKG serta tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi.