BMKG Gelar Sekolah Lapang Kebencanaan untuk Perkuat Kesiapsiagaan Warga Bireuen

08/10/2026 00:33

BIREUEN – BMKG menggelar Sekolah Lapang Nelayan, Iklim, Gempa Bumi, dan Tsunami di Kabupaten Bireuen, Aceh, pada 7 Oktober 2026. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi ancaman bencana sekaligus mendukung pemulihan pascabencana di Aceh.

Sekolah Lapang diikuti 202 peserta dan dihadiri Wakil Bupati Bireuen, Forkopimda, perwakilan Komisi V DPR RI, serta jajaran pejabat BMKG. Pelibatan berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.

Informasi sains untuk keputusan yang lebih aman

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan perlunya menyampaikan informasi sains dan teknologi agar dapat dipahami serta dimanfaatkan langsung oleh masyarakat, khususnya nelayan, petani, dan warga pesisir. Informasi meteorologi, klimatologi, gempa bumi, dan tsunami diharapkan membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih tepat dan aman dalam kegiatan sehari-hari.

BMKG juga mendorong pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur. Peningkatan pengetahuan, kapasitas, dan kesiapsiagaan masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan.

Dalam kegiatan tersebut, pengetahuan ilmiah dipandang perlu berjalan berdampingan dengan kearifan lokal yang berkembang di Aceh. Keduanya dapat saling melengkapi untuk mendukung kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana.

Pengetahuan diharapkan diterapkan dan dibagikan

Wakil Bupati Bireuen Razuardi Ibrahim mengapresiasi pelaksanaan Sekolah Lapang. Menurutnya, kegiatan ini memberi manfaat bagi masyarakat dalam memahami informasi cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menekankan pentingnya memperkuat sinergi pemerintah daerah, BMKG, dan masyarakat supaya informasi kebencanaan dapat dipahami hingga tingkat masyarakat.

BMKG berharap peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam aktivitas sehari-hari dan membagikannya kepada warga sekitar. Dengan bekal tersebut, masyarakat diharapkan lebih siap mengenali ancaman, memahami mitigasi, dan mengambil tindakan yang tepat saat menghadapi kondisi darurat.