BMKG Latih 27 Peserta Operasikan Model Maritim InaCAWO Hindcast
BMKG menggelar pelatihan pemodelan maritim InaCAWO Hindcast pada 20–22 Oktober 2026 di Kantor Pusat BMKG, Jakarta. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan teknis dan kemandirian personel dalam mengoperasikan model yang mengintegrasikan dinamika atmosfer, gelombang, dan laut.
Menurut keterangan BMKG, pelatihan selama tiga hari itu berlangsung selama 27 jam pelajaran dan diikuti 27 peserta dari sejumlah unit pusat, balai, serta stasiun meteorologi maritim. Kegiatan diselenggarakan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bersama tim MMS-2 Paket 3.
Data historis untuk analisis kondisi laut
InaCAWO Hindcast merupakan kemampuan untuk merekonstruksi kondisi atmosfer dan laut pada periode lampau. Data tersebut dapat digunakan untuk menganalisis kejadian maritim ekstrem, mengevaluasi kinerja model, serta menelaah kondisi cuaca dan gelombang saat terjadi insiden pelayaran.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menyampaikan bahwa pemodelan meteorologi dan oseanografi perlu dilakukan secara terpadu karena kondisi cuaca di perairan dipengaruhi interaksi atmosfer dan lautan. Ia juga menekankan perlunya evaluasi dan kalibrasi berkelanjutan dengan data observasi, sebab hasil model tidak selalu sepenuhnya sesuai dengan kondisi aktual.
BMKG mengembangkan InaCAWO Hindcast untuk menyediakan data historis atmosfer dan laut selama 30 tahun ke belakang. Data itu ditujukan untuk mendukung analisis cuaca ekstrem dan pengembangan sistem peringatan dini banjir pesisir atau Coastal Flood Early Warning System.
BMKG terlibat dalam proses simulasi
Direktur Data dan Komputasi BMKG sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen MMS-2 Paket 3, Bambang Setiyo Prayitno, menjelaskan bahwa pengembangan InaCAWO mencakup tiga fokus: Hindcast, Ensemble dan Asimilasi Data, serta Limited Area Model (LAM). Pada fase sebelumnya, InaCAWO telah mampu menghasilkan prakiraan atmosfer, laut, dan gelombang dengan resolusi 3 kilometer hingga 10 hari ke depan. Pengembangan terbaru diarahkan untuk mendukung analisis historis, meningkatkan keandalan prakiraan, dan mempertajam resolusi pemodelan.
Dalam skema alih teknologi untuk Hindcast, penyedia akan mengerjakan simulasi selama 20 tahun, sementara tim teknis BMKG menjalankan simulasi untuk 10 tahun menggunakan infrastruktur High Performance Computing (HPC). Keterlibatan BMKG meliputi penyiapan data, konfigurasi dan pengoperasian model, pengolahan serta validasi hasil, hingga integrasi ke platform Mandala dan sistem peringatan dini banjir pesisir.
Pengembangan InaCAWO merupakan kelanjutan dari fondasi pemodelan laut BMKG yang, menurut Project Director MMS-2 Paket 3 Andri Ramdhani, telah dimulai sejak 2004 melalui WindWaves dan BMKG Ocean Forecast System (BMKG-OFS). Dalam cakupan MMS-2, BMKG juga mengembangkan kapasitas layanan cuaca dan iklim, termasuk pemodelan numerik dan sistem observasi.
Materi pelatihan berfokus pada praktik
Kepala PPSDM MKG Adityawarman menyebut pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari Factory Training InaCAWO Hindcast di kantor Collecte Localisation Satellites (CLS), Prancis, pada 15–18 Desember 2025. Pelatihan di Jakarta menitikberatkan praktik langsung.
Peserta mempelajari konsep InaCAWO dan Hindcast, konfigurasi lingkungan komputasi dan pengunduhan data masukan, penyiapan data, konfigurasi serta pengoperasian model, dan pemeriksaan mutu hasil pemodelan. Peserta berasal dari Kedeputian Bidang Meteorologi, Kedeputian Bidang Infrastruktur MKG, Pusat Standardisasi Instrumen MKG, Balai Besar MKG Wilayah II, serta Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Priok.
BMKG menargetkan peserta dapat menjalankan simulasi Hindcast secara mandiri dan berkelanjutan setelah proyek berakhir. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan mendukung layanan informasi cuaca maritim, keselamatan pelayaran, dan mitigasi risiko bencana hidrometeorologi di wilayah pesisir.