BMKG Resmikan HF Radar di Aceh Besar untuk Pantau Laut dan Perkuat Mitigasi Bencana
BMKG meresmikan fasilitas High Frequency (HF) Radar Array di Ujong Batee dan Lamteungoh, Kabupaten Aceh Besar, pada Kamis (8/10/2026). Teknologi ini digunakan untuk memantau dinamika laut dan mendukung keselamatan pelayaran, aktivitas perikanan, serta mitigasi bencana.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, HF Radar dapat mengamati arus permukaan, tinggi gelombang, dan arah angin. Dalam kondisi tertentu, sistemnya juga dapat dialihkan ke mode tsunami untuk memantau anomali gelombang laut.
Dukung keselamatan pelayaran dan nelayan
Informasi kondisi laut dari radar dapat membantu pelayaran dan memberi nelayan bahan pertimbangan untuk merencanakan kegiatan melaut. Data tersebut juga berpotensi mendukung pencarian dan pertolongan, keselamatan navigasi, pemodelan penyebaran tumpahan minyak, serta pemantauan dinamika laut.
Pemantauan dilengkapi instrumen Tsunami Gauge yang mengamati perubahan muka air laut, termasuk fluktuasi pasang surut dan kedatangan gelombang tsunami. Data dari instrumen ini melengkapi informasi yang dibutuhkan untuk mendukung mitigasi bencana.
Bagian dari pengembangan jaringan observasi laut
Menurut BMKG, pembangunan fasilitas di Aceh merupakan bagian dari program Marine Meteorology System (MMS) Tahap 2. Pengerjaan dimulai pada Maret 2025 dan meliputi survei lokasi, desain teknis, pembangunan fasilitas, pemasangan sensor, kalibrasi, serta integrasi sistem dengan pusat pengolahan data BMKG.
Pengembangan ini didukung kerja sama BMKG dengan Agence Française de Développement (AFD) dan perusahaan penyedia teknologi CLS. Wakil Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Fabrice Fize, menyampaikan bahwa kerja sama tersebut ditujukan untuk mendukung pencegahan bencana alam dan memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim.
Bupati Aceh Besar Muharram Idris menyebut fasilitas di Ujong Batee dan Lamteungoh sebagai bagian dari upaya penguatan sistem observasi laut dan layanan informasi maritim BMKG di wilayahnya.
BMKG dorong pemanfaatan informasi dan edukasi
BMKG mengimbau pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten dan kota di Aceh agar lebih proaktif memanfaatkan informasi dari stasiun BMKG. Kesiapsiagaan, menurut BMKG, tidak hanya bergantung pada respons masyarakat, tetapi juga perlu ditopang penggunaan informasi dan langkah mitigasi berkelanjutan oleh pemerintah daerah.
Selain mengembangkan teknologi observasi, BMKG menjalankan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN), Sekolah Lapang Iklim (SLI), dan Sekolah Lapang Geofisika (SLG). Program-program tersebut membekali nelayan, petani, dan masyarakat dengan pengetahuan untuk memanfaatkan informasi cuaca dan iklim serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi dan tsunami.
BMKG berharap data dari HF Radar dapat diterjemahkan menjadi langkah antisipasi nyata. Sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, mitra pembangunan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam meningkatkan keselamatan maritim dan mengurangi risiko bencana di Aceh.