Gempa M5,9 Guncang Sumba Barat Daya, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

04/10/2026 00:33

Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah pantai barat daya Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (4/10/2026) pukul 05.55.52 WIB. BMKG melaporkan gempa yang pada analisis awal tercatat M6,1 itu memiliki parameter pemutakhiran M5,9 dan tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa berada di laut, sekitar 59 kilometer arah barat daya Kodi, Sumba Barat Daya, pada kedalaman 30 kilometer. Lokasinya tercatat pada koordinat 9,84° LS dan 118,90° BT.

Gempa dangkal, diduga terkait sesar aktif

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa tersebut dikategorikan sebagai gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif yang diduga berasosiasi dengan Sesar Waikabubak. Analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan turun atau normal fault.

Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah

BMKG mencatat guncangan terkuat pada skala VI MMI di Kodi Balaghar, Kodi Bangedo, dan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Pada skala tersebut, sebagian besar penduduk terkejut dan berlari ke luar rumah.

Guncangan pada skala IV MMI dirasakan di Kota Tambolaka, Kota Waikabubak, Kota Waibakul, dan Kota Raba. Sementara itu, Kota Bima merasakan guncangan pada skala III MMI.

Guncangan menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga dan fasilitas sekolah di Desa Perokonda, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya. Dalam laporan sementara hingga pukul 08.40 WIB, BMKG menyebut terdapat kerusakan dengan kategori sedang di beberapa wilayah dan satu orang mengalami luka ringan. Pendataan dampak secara komprehensif akan dilakukan oleh Stasiun Geofisika Sumba Timur.

BMKG catat 62 gempa susulan

Hingga pukul 08.05 WIB, hasil pemantauan BMKG mencatat setidaknya 62 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,5 dan 4,3. BMKG menyatakan akan terus memantau aktivitas susulan dan menyampaikan pembaruan secara berkala.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang serta menghindari bangunan yang retak atau rusak. Masyarakat juga diminta tidak memercayai informasi yang tidak jelas sumbernya dan mengakses informasi terverifikasi melalui kanal resmi BMKG, termasuk situs bmkg.go.id dan inatews.bmkg.go.id.