Siswa SMP Al-Azhar Syifa Budi Cibubur Belajar Cuaca dan Kesiapsiagaan Bencana di BMKG
Siswa kelas 7 SMP Al-Azhar Syifa Budi Cibubur mengunjungi Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta pada 14 Oktober 2026. Kegiatan edukasi ini memperkenalkan ilmu cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami sekaligus pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Dalam kunjungan tersebut, para siswa melihat secara langsung peralatan pengamatan atmosfer di Taman Alat Meteorologi. Bersama Devika Rakhmatia dari Direktorat Meteorologi Penerbangan, mereka mengenal sangkar meteorologi, panci penguapan, dan campbell stokes. Peralatan itu mengambil data yang kemudian diolah prakirawan menjadi informasi bagi masyarakat.
Mengenal pengamatan iklim dan siklus air
Di Galeri B.A.I.K. (Bumi, Atmosfer, Iklim, Kualitas Udara), siswa mempelajari alat pengamatan iklim, siklus hidrologi, serta pemanfaatan informasi iklim untuk berbagai sektor. Mereka juga mendapat materi mengenai pemanasan global dan perubahan iklim melalui media pembelajaran interaktif.
Salah satu siswa menanyakan arti run off. Alya Sausan Nabilah dari Direktorat Layanan Iklim Terapan menjelaskan bahwa istilah tersebut merujuk pada limpasan permukaan, yakni air hujan yang mengalir di permukaan tanah hingga menuju sungai.
Simulasi gempa dan materi tanggap tsunami
Para siswa kemudian mencoba Simulator Gempa Bumi secara bergantian untuk merasakan guncangan. Simulasi tersebut menjadi pengantar untuk memahami tindakan yang tepat saat gempa dan mengikuti materi kesiapsiagaan di ruang Media Center.
Muhammad Rekki Julian Putra dari Direktorat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu menerangkan bahwa gempa bumi merupakan getaran di permukaan bumi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba. Ia menggunakan analogi gabus yang dipanaskan hingga retak dan terpecah untuk menggambarkan pergerakan lempeng. BMKG juga menjelaskan bahwa Indonesia berada di pertemuan empat lempeng tektonik dan belum ada teknologi di dunia yang dapat memprediksi waktu tepat terjadinya gempa.
Materi tsunami disampaikan Dicky Prasetya Bagaskara. Tsunami dijelaskan sebagai gelombang laut yang menyapu daratan akibat perubahan bentuk dasar laut, yang salah satunya dapat dipicu gempa bumi. Siswa diperkenalkan pada tiga langkah tanggap tsunami: tanggap gempa, tanggap peringatan, dan tanggap evakuasi.
Memahami cuaca dan prakiraan
Novia Rosita dari Direktorat Meteorologi Publik memaparkan perbedaan cuaca dan iklim. Cuaca adalah kondisi atmosfer sesaat di suatu tempat, sedangkan iklim merupakan rata-rata cuaca di wilayah yang lebih luas dalam jangka waktu lebih panjang.
Ia juga memperlihatkan pengamatan cuaca menggunakan Automatic Weather Station (AWS), yang mengirimkan data secara real time, serta menjelaskan empat tahap pembuatan prakiraan cuaca, dari pengumpulan data hingga prakiraan dipublikasikan.
Melalui kunjungan edukasi ini, siswa mendapat pengalaman langsung mengenai keterkaitan ilmu kebumian dengan kehidupan sehari-hari, termasuk pentingnya memahami informasi cuaca dan bersiap menghadapi bencana. Informasi kegiatan ini disampaikan BMKG.